Tahap Perkembangan Bayi 0-1 tahun

Tahap tahap Perkembangan Bayi Usia 0-1 Tahun

Kegiatan perawatan yang menyediakan stimulus visual, taktil, olfaktori, dan auditori sangat mendukung perkembangan kecerdasan bayi. Studi tentang habituasi dan preferensi tatapan memberikan pandangan tentang bagaimana bayi  menginterpretasikan stimulus yang diterimanya. Bayi habituasi terhadap hal-hal yang sama, dan perhatiannya akan semakin terus berkurang terhadap rangsangan yang berulang-ulang dan perhatiannya akan kembali meningkat apabila stimulus diganti.

Percobaan menggunakan habituasi dan perhatian bayi yang terus terpabaharui sebagai keluaran dari bayi menunjukkan bahwa bayi bisa membedakan antara banyak pola, warna, dan konsonan.  Mereka bisa mengenali ekspresi wajah seperti senyuman  walaupun ditampilkan dari wajah yang berbeda-beda. Mereka juga bisa menegnali stimulasi abstrak seperti kontur, intensitas, atau pola temporal. Sebagai contoh, bayi berusia 3 minggu bisa merespon ucapan berdasarkan gerak bibir orang lain walaupun dalam video. Apabila mata bayi ditutup kemudian dibuka dan diberikan dot biasa dan dot bergelombang secara bersamaan, maka bayi akan mengamati dot yang bergelombang lebih lama.

Beberapa studi mensugestikan bahwa bayi dapat melihat objek dan kejadian sebagai suatu hal yang berkaitan sembari memorinya mencatat aspek-aspek yang berbeda. Kemampuan ini membuat bayi bisa mengurutkan stimulus menjadi set-set tertentu.

  1. Pembangunan Emosi:

Dasar kepercayaan, tahap pertama psikososial erikson, dimana bayi belajar bahwa kebutuhan terpentingnya adalah bertemu secara teratur dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Keberadaan orang tua secara konsisten memberikan kondisi aman pada bayi. Bayi yang sering terbangun dalam kondisi tersebut lebih tidak sering menangis apabila sesuatu terjadi di sekitarnya pada usia 1 tahun, dan menunjukkan tingkah laku yang lebih tidak agresif ketika berusia 2 tahun.

Perkembangan emosi sangat bergantung temperamen dari bayi dan bagaimana orang tuanya berespon terhadap temperamen tersebut. Jadwal makan bayi turut dipertimbangkan juga. Rasa lapar memberikan tekanan pada bayi, dan pada puncaknya bayi akan menangis dan orang tua akan datang dengan sebuah botol atau susu ibu, dan tekanannya akan menurun kembali.  Bayi yang diberikan makanan sangat terjadwal akan dengan cepat teradaptasi dengan rasa laparnya. Bagi bayi yang  tidak bisa disebabkan secara temperamen cenderung mempunyai ritme biologis  yang irregular dari rasa lapar yang tidak terpuaskan begitupun ketika bayi tidak menginginkan makanan saat bayi merasa kenyang. Sama halnya, bayi yang diberi makanan sesuai dengan kenyamanan orang tua tanpa memperhatikan kebutuhan dan tekanan bayi, maka akan terlihat mempunyai kondisi psikososial yang sangat tidak stabil.

  1. Usia 2-6 bulan
  2. Pembangunan Kognitif

Efek dari pembangunan ini adalah perubahan secara kualitatif. Bayi berusia empat bulan  digambarkan sebagai “hatching” sosial, menjadi seseorang yang tertarik dengan dunia yang lebih luas.  Ketika disusui ibunya bayi tidak hanya terfokus pada ibunya, tapi konsentrasinya akan terpecah ketika ada gangguan. Begitupun ketika dalam dekapan tangan ibunya bayi akan menggerakkan badanya untuk berputar dan melihat kea rah luar.

Pada usia ini bayi akan mengeksplorasi tubuhnya, berusaha meraih sesuatu dengan tangannya, vokalisasi, meniup gelembung dari ludahnya, dan menyentuh pipi, leher, dan genitalnya. Eksplorasi ini merupakan  tahap awal dari bayi memahami sebab dan efek mengenai gerakan otot sadar dilakukan untuk  rangsangan taktil terprediksi dan sensasi  visual. Hal tersebut juga berperan dalam melatih kepekaan terhadap hal yang membahayakan tubuh. Bayi juga akan mencoba mengasosiasikan  berbagai sensasi dari pengulangan-pengulangan stimulus. Misalnya ketika kita menggerakkan jari di depan bayi, maka bayi akan menegakkan tangannya dan kemudian menggerakkan jari-jarinya. Sensasi yang muncul langsung dari bayi akan jauh lebih mungkin dilakukan lagi daripada yan tidak.  Setelah bayi menangis, biasanya akan cepat muncul kerinduan akan suara, bau, dan kasih saying ibu.

  1. Pembangunan emosi

Penglihatan “keluar” dari bayi akan berinteraksi dengan peningkatan kecanggihan dan ruang.  Emosi-emosi utama seperti marah,nikmat, tertarik, ingin tahu, dan terkejut, muncul dalam konteks mengenali ekspresi wajah orang-orang yang ada di sekitarnya. Wajah ke wajah antara bayi dan orang tua mempengaruhi 30% ekspresi bayi; intensitas senyuman, membelalakan mata, menggerak-gerakan bibir naik turun. Setiap beberapa detik, bayi memeperlihatkan kegembiraan dengan memalingkan wajahnya seolah-olah menyelesaikan interaksi, namun dalam waktu dekat bayi akan kembali berinteraksi. Apabila orang tua memalingkan wajah maka bayi akan mencoba menggerakkan tubuhnya, dan menggapai orang tuanya untuk meminta agar kembali berinteraksi. Jika gagal, maka bayi akan menangis.

Bayi dari orang tua yang depresi  menunjukkan pola yang berbeda, bayi menghabiskan lebih sedikit waktu dalam berlatih gerak yang terkoordinasi bersama orang tua dan memberikan lebih sedikit usaha  untuk mencoba berlatih. Dibandingkan marah, bayi umunya menunjukkan kesedihan dan kehilangan sedikit energinya apabila orang tua terus-terusan tidak ada bersama bayinya. Saling bertatap muka dengan orang tua bisa memberikan kemampuan pada bayi untuk berbagi emosi dengan orang lain. hal tersebut merupakan langkah awal dari membangun sebuah komunikasi . hal tersebut juga menunjukkan bagaimana bayi membangun ekspektasi terhadap sebuah hubungan sosial.

Begitulah kehidupan bayi yang sangat tertarik akan hal disekelilingnya ketika usia 3-6 bulan.

  1. Usia 6-12 bulan
  2. Perkembangan cognitive

Pada awalnya segala sesuatu akan berujung di mulut. Objek baru akan diambil, kemudian dilihat oleh bayi (Inspeksi), dipindahkan dari dan ke kedua tangannya, kemudian di masukkan kemulut. Setiap gerakan tersebut merupakan gagasan nonverbal bayi untuk mencari tahu tentang objek baru tersebut atau disebut dengan schema.  Semakin kompleks yang dilakukan bayi, berapa banyak schemata yang dilakukan, merupakan sebuah indeks yang sangat berguna bagi pembangunan kognitif usia ini. Kepuasan, kegigihan, dan energi yang bayi gunakan untuk menaklukan tantangan tersebut mensugesti  keberadaan penggerak intrinsik atau motivasi  diri. Prilaku cerdas bayi akan lahir jika bayi merasa aman.

Pencapaian besar yang didapatkan bayi pada usia ini (9 bulan) adalah kebertahanan objek, dimana objek akan tetap ada walaupun tidak terlihat. Pada usia 4-7 bulan, ketika bayi menjatuhkan sebuah bola dan bola kemudian tidak terlihat lagi, maka bayi akan membiarkan dan melupakannya saja. Dalam usia ini, ketika bola terjatuh dan hilang dari pandangan bayi, maka bayi akan terus berusaha mencari dan menemukan kembali bola tersebut.

  1. Perkembangan emosional

Keuntungan dari konstansi objek mempengaruhi perubahan kualitatif pada pembangunan sosial dan komunikasi. Bayi akan lebih melihat, dan menghampiri orang asing dan orang tuanya untuk memperhatikan kontras antara sesuatu yang bayi ketahui dan yang tidak diketahui. Bayi bisa saja menangis kecemasan. Pada usia ini bayi akan semakin susah berpisah dari orang tua, bayi yang dahulunya selalu dapat tidur sepanjang malam, akan terbiasa bangun teratur dan menangis sebagai bukti mengingat keberadaan orang tua di ruang lain.

Pada waktu ini, keotonomian bayi akan mulai berkembang. Bayi tidak lagi menunggu untuk diberi makan, akan tetapi bayi sudah berusaha untuk mencari makanannya sendiri. Memasukkan makanan dengan jari melatih bayi untuk mengembangkan keahlian motorik yang dibutuhkan bayi; mungkin satu-satunya cara untuk melatih anak makan sendiri. Kemurkaan bayi akan pertama muncul sebagai lawan terhadap control dari orang tua atau kemampuan bayi yang masih terbatas.

  1. Komunikasi

Bayi usia 7 bulan terbiasa dengan bahasa nonverbal, mengekspressikan kisaran emosi, respon terhadap nada vocal dan ekspressi wajah. Sekitar 9 bulan, bayi mulai peduli dengan emosi yang bisa dibagi dengan orang lain. seperti ketika bayi menunjukkan mainannya dengan perasaan senang, seolah mengucapkan :”ketika melihat benda ini, kau juga akan bahagia”. Antara usia 8 – 10 bulan, babblings bayi semakin komplek dengan lebih banyak “syallable” seperti ba-da-ma dengan disertai mimic. Pada usia ini bayi kehilangan kemampuan untuk mengenali suara vocal yang tidak terbedakann dalam bahasa natifnya.

Pada usia ini buku bergambar memberikan konteks ideal dari komunikasi nonverbal. Penjelasan-penjelasan dari orang tua pada buku-buku yang familiar akan sangat membantu proses ini.

 

Tahapan Pertumbuhan pada 2 tahun awal kehidupan bayi

Perkembangan Usia rata-rata dalam pencapaian (bulan) Implikasi pada Perkembangan
Gross Motor

Kepala konstan ketika duduk

Tidak ada Head lag ketika ditarik duduk

Kedua tangan di garis tengah tubuh

Hilangnya refleks tonus leher asimmestriss

Duduk tanpa sokongan

Berguling ke belakang

Berjalan Sendiri

Berlari

 

2

3

 

3

4

 

6

6,5

12

16

 

Meluangkan untuk interaksi visual

Tonus otot

 

Self-discovery

Bayi bisa memeriksa tangannya di sumbu tubuh

Meningkatkan eksplorasi

Fleksi truncal, resiko jatuh

Eksplorasi dan kedekatan dengan ortu

Lebih susah disupervisikan orang tua

Fine Motor

Memegang mainan

Meraih sebuah objek

Kepalan tidak kaku

Memindahkan objek dari tangan ke tangan

Memegang dengan ibu jari

Membuka halaman buku

 

Mencoret

Membangun bangunan dari 2 kubus

Membangun bangunan dari 6 kubus

 

3,5

4

4

5,5

 

8

12

 

13

15

22

 

Penggunaan Objek

Koordinasi visuomotor

Melepas secara sadar

Membnadingkan objek

 

Eksplorasi benda kecil

Meningkatkan otonomi dalam waktu bersama buku

Koordinasi visuomotor

Kombinasi objek

Koordinasi visual, gross dan fine motor

Komunikasi dan Bahasa

Tersenyum merespon wajah/ suara

Monosyllabic buble

 

Menghalangi kata “tidak”

Mengikuti perintah dengan gesture

Mengikuti perintah tanpa gesture

Berbicara satu kata riil

Berbicara 4-6 kata

Berbicara 10-15 kata

Mengucapkan kalimat dua kata

 

1,5

6

 

7

7

10

12

15

18

19

 

Lebih aktif sebagai partisipan sosial

Eksperimen dengan rangsang suara dan taktil

Respon terhadap nada (nonverbal)

Komunikasi nonverbal

Menerima bahasa verbal

Memulai labeling

Memperoleh nama sendiri dan objek

idem

memulai ramatisasi

Kognitif

Melihat sementara dari objek yang hilang

Melihat ke tangan sendiri

Memukulkan dua kubus

MEncari mainan (setelah disemmbunyikan)

Permainan berpura-pura sendiri

Menggunakan stik untuk mengambil mainan

Bermain pura-pura dengan boneka

 

2

 

4

8

8

 

12

17

 

17

 

Lupa dengan objek

 

Self-discovery

Membandinkan 2 objek

Kepermanenan objek

 

Memulai pemikiran simbolis

Mengkaitkan dua kegiatan untuk penyelesaian masalah

Pemikiran simbolis

 

Pola tingkah laku yang muncul selama tahun pertama kelahiran

Neonatal Period (0-4 Minggu)
Prone:

 

Supine :

Visual   :

 

Refleks:

Sosial   :

Terbaring dalam sikap tertekuk, menolehkan kepala dari sis  ke sisi, kepala melengkung kearah ventral

Biasanya menekuk dan sedikit kaku

Terpaku pada wajah atau cahaya yang terlihat, gerakan mata seperti mata boneka apabila digerakkan

Repon Moro aktif, Reflex menapak, dan Reflex mengepal aktif

Pandangan visual untuk melihat wajah orang-orang

 

Prone:

 

Supine :

Visual   :

Sosial   :

4 Minggu

Kaki lebih ekstensi, menahan dagu ke atas, memalingkan wajah, sesekali kepala di angkat ke garis lurus tubuh

Postur tonus leher menonjol, luwes dan rileks, head lag apabila ditarik

Menonton orang, mengikuti objek bergerak

Tubuh bergerak dengan irama dari suara orang lain, mulai tersenyum

 

Prone   :

Supine :

Visual   :

Sosial   :

8 Minggu

Bisa mengangkat kepala lebih jauh, kepala tertopang segaris dengan garis lurus tubuh

Postur tonus leher menonjol, luwes dan rileks, head lag apabila ditarik

MEngikuti objek bergerak hingga 180%

Tersenyum dan mendengarkan suara dan bisikan

 

Prone   :

Supine :

Sitting  :

Refleks:

 

Sosial   :

12 Minggu

Mengangkat kepala, tangan dan dada ekstensi, kepala diatas garis lurus tubuh

Postur tonus leher menonjol, mencoba meraih objek

Sedikit head lag apabila ditarik duduk, sekontrol kepala di awal

Respon moro mulai tak terlihat, membuat pergerakan defensive atau gerakan menarik

BErtahan di kontak sosial, mendengarkan music,  dan mengucapkan “aah, ngaah”

 

Prone   :

 

Supine :

 

Sitting:

 

Standing:

Adaptif  :

Sosial   :

16 Minggu

Mengangkat kepala hingga kepala dada dan dada nyaris berada dalam sumbu vertical, kaki ekstensi

Postur simetris menonjol, tangan di tengah tubuh, meraih benda dan memasukkannya ke mulut

Tidak ada head lag ketika duduk, kepala tegak, dan enjoy duduk dengan sokongan dada

Ketika ditarik untuk berdiri, bayi menekan dengan kakinya ke lantai

Melihat benda kecil, tapi tidak berespon

TErtawa keras, dan bisa menunjukkan ketidakpuasan akan lingkungan sosial, tertarik dengan makanan

 

Prone:

Supine :

Sitting   :

Standing:

Adaptif:

 

Languague:

Sosial   :

28 Minggu

Berguling, memoros, dan merangkak atau merayap

Kepala mengangkat, Berguling, GErakan menggeliat

Duduk Rapi dengan sokongan pelvis, mencondongkan tubuh, menoleh kebelakang

Menggerakkan kaki aktif

Memegang benda besar, benda kecil dengan radial palm, memindahkan objek dari tangan ke tangan

Polisillabic

Menyukai ibu, kaca dan berespon thdp perubahan kondisi emosi lingkungan

 

Sitting:

Standing :

Motor   :

Adaptive:

 

 

Language  :

Social         :

40 Minggu

Duduk sendiri, punggung lurus

Berusaha berdiri, memapaki jalan sambil dipegangi

Merangkak

Meraih objek dengan ibu jari dan telunjuk, mencolek sesuatu,mencari objek yg disembunyikan, mencoba mengambil objek yang jatuh, melepaskan objek yang dipegang orang lain

Konsonan berulang (da-da,ma-ma)

Respon panggilan nama, peek-a-boo, pat-a-cake-, bye-bye

 

Mmotor:

Adaptive :

 

Language:

Sosial   :

1 tahun

Berjalan dengan pegangan satu tangan, berdiri sendiri, bisa beberapa langkah

Mengambil pellet dengan gerakan menjepit, memberikan object apabila diminta orang lain

Beberapa kata selain mama atau dada

Mengatur postur untuk berpakaian, bermain permainan simple dengan bola

 

 

Daftar Pustaka:

Nelson. Textbook of Pediatric Ed.17. Behrman: Saunders, 2003.p. 31-38.

Narendra MB, SUlaryo TS, Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja. Jakarta: Sagung Seto, 2002.p. 86

Brazelton TB. Touchpoints: The Essential Reference. Reading, MA, Addison-Wesley Publishing, 1992.

 

Metabolisme Adiposa dan Mekanisme Kenyang

Metabolisme Jaringan Adiposa

Sebagian besar asam lemak yang disimpan dalam jaringan adipose berasal dari lipoprotein kaya trigliserida yang berada dalam sirkulasi. VLDL dan chylomicron  dihidrolisis oleh lipoprotein lipase (LPL) yang terletak di endothelium kapiler pada jaringan lemak dan hati menghasilkan asam lemak, dan sebagian besarnya akan ditransportasikan menuju jaringan adipose.  Jaringan adipose juga mampu membentuk asam lemak dari asetat.  Insulin, yang menginduksi kerja LPL juga memfasilitasi glucose untuk dikirimkan ke jaringan adipose dimana glucose akan dirubah menjadi alfa gliceryl fosfat yang mrupakan salah satu bahan utama untuk esterifikasi asam lemak menjadi trigliserida. Glukosa juga berkontribusi dalam sintesis asam lemak dalam kondisi tertentu.

Dengan dimediasi oleh hormone intraseluler yang sensitif terhadap sistem lipase, asam lemak bebas dan gliserol dimobilisasi menuju plasma dengan cara menghidrolisis trigliserida yang tersimpan. Hormon yang menstimulasi hidrolisis trigliserida adalah epinephrine, norepinephrin, ACTH, glucagon,dan hormone pertumbuhan.

Epinephrine dan norepinephrine bekerja sebagai akibat perangsangan secara simpatis. Kedua hormone ini bekerja. Stres juga bisa menyebabkan sejumlah kortikotropin dilepaskan oleh hipofisis anterior., mengakibatkan korteks adrenal mensekresi glukokortikoid ekstra. Kedua hormone tersebut bekerja bersama dengan efek ketogenik.  Hormon pertumbuhan mempunyai kerja yang sama namun lebih lemah pengaruhnya dibandingkan kedua hormone tersebut. Hormon tiroid, bekerja secara tidak langsung mellaui metabolism yang diatur oleh hormone ini.

Jaringan adipose dipersarafi oleh sistem saraf autonom, yang memperlihatkan control sistem saraf pusat terhadap mobilisasi asam lemak. Kebanyakan dari stimulus meningkatkan aktivitas dari adenilate siklase yang berakibat meningkatnya aktvitas cAMP. Aktivitas cAMP mengaktifkan protein kinase  yang menrubah trigliserida menjadi bentuk aktifnya.  Fosforilasi ini bersifat reversible selama ada kerja enzim fosfatase, sehingga memungkinkan terjadinya control terhadap irama lipolisis. Fosfodiesterase bisa menghambat pengiriman sinyal cAMP dengan menghidrolisis nuleotida siklik. Penghambatan fosfodiesterase oleh kafein dan theophylline mendukung adanya stimulasi hormonal terhadap lipolisis. Stimulasi hormonal dan neuronal ini dioposisi oleh kerja insulin.

Proliferasi Adiposa

Pada bulan pertama kehidupan adipose akan menambah kapasiatsa penyimpanannya dengan hipertrofi. Pada anak yang tidak obesitas, ukuran sel lemak akan berkurang hingga usia 1 tahun, sedangkan hipertrofi akan terus berlanjut pada anak yang obesitas. Penambahan jumlah sel adipose terjadi dari usia 1 tahun hingga preadolescence, akan terjadi lebih agresif pada anak yang obesitas.

Jaringan adipose merupakan 10% komposisi tubuh bayi ketika lahir. Ketika dewasa, laki-laki akan mempunyai bobot jaringan adipose 10-15 % dengan persebaran terbanyak dibagian truncal sedangkan pada wanita mempunyai bobot 15-20% komposisi tubuh dengan persebaran terpusat di alat gerak dan wilayah gluteal.

Pusat Saraf yang Mengatur Asupan Makanan

Sensai lapar disebabkan oleh keinginan akan makanan dan beberapa pengaruh fisiologis lainnya, seperti kontraksi ritmis lambung dan kegelisahan yang menyebabkan seseorang mencari suplai makanan yang adekuat.

Beberapa pusat saraf di hypothalamus ikut serta dalam pengaturan asupan makanan.

  1. Nukleus lateral hypothalamus berfungsi sebagai pusat makan. Perangsangan akan mengakibatkan hewan  makan dengan rakus(hiperfagia), dan destruksi mengakibatkan hewan hilangnya nafsu makan dan pengurusan serta pelemahan tubuh (inanisi), suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan berat badan, kelemahan otot, dan penurunan metabolism. Bekerja dengan membangkitkan dorongan motorik untuk mencari makanan.
  2. Nukleus Ventromedial hypothalamus berfungsi sebagai pusat kenyang.  Perangsangan bagian ini mengakibatkan kenyang yang penuh hingga afagia, dan destruksi mengakibatkan hiperfagia bahkan 4 kali normal
  3. Nukleus Paraventrikular, jika lesi menimbulkan hiperfagia dan nucleus dorsomedial yang jika lesi menimbulkan afagia.
  4. Nucleus arkuata, tempat berbagai hormone yang dilepaskan saluran pencernaan, dan jaringan adipose berkumpul untuk mengatur asupan makanan dan keluaran energy.

Nukleus-nukleus tersebut memfalisitasi terjadinya reaksi kimiawi dalam pengaturan asupan makanan dan persepsi kenyang dan mempengaruhi sekresi-sekresi hormone yang terlibat dalam  pengaturan keseimbangan energy dan metabolism, meliputi sekresi yang berasal dari kelenjar tiroid dan adrenal, serta sel-sel pulau pancreas.

Dalam mengatur asupan makanan hypothalamus menerima sinyal saraf dari:

  1. Saluran pencernaan yang memberikan informasi sensorik mengenai isi lambung
  2. Sinyal kimia dari zat nutrisi dalam darah (glukosa, asam lemak, dan asam amino) yang menandakan rasa kenyang (teori
  3. Sinyal dari hormone gastrointestinal
  4. Sinyal dari hormone yang dilepaskan oleh jaringan lemak
  5. Sinyal dari korteks serebri (penglihatan, penciuman, dan pengecapan)

Pusat makan dan kenyang mempunyai kepadatan reseptor yang tinggi akan hormone-hormon tersebut. Sebagian zat mampu memengaruhi nafsu makan dan rasa lapar, yang dibagi menjadi 2 kelompok: 1) zat oreksigenik, yang menstimuli rasa lapar dan 2) zat anoreksigenik  yang menghambat rasa lapar.

Menurunkan Nafsu Makan Meningkatkan Nafsu Makan
Alfa MSH Neuropeptida Y (NPY)
Leptin AGRP
Serotonin Hormon pemekat melanin (MCH)
Norepinephrin Oreksin A dan B
Corticotropin-releasing hormone ENdorfin
Insulin Galanin (GAL)
Kolesistikinin Asam amino (Asam glutamate dan GABA)
Peptida Mirip Glukagon Kortisol
CART Ghrelin
PYY

Neuron dan Neurotransmitter di Hipothalamus yang merangsang atau menghambat perilaku makan

Nukleus arkuatus merupakan sasaran bagi hormone-hormon yang mengatur nafsu makan seperti leptin, insulin, kolesistokinin (CCK), dan ghrelin. Nukelus arkuatus mempunyai 2  jenis neuron yang yang berperan penting dalam mekanisme nanfsu makan dan pengeluaran energi:

  1. Neuron proopiomelanokortin (POMC) yang memproduksi alfa melanosit stimulating homon (alfa MSH),  bersama dengan cocaine, dan amphetamine related transcript (CART). Aktivasi neuron ini akan mengurangi asupan makanan dan meningkatkan pengeluaran energy.

Neuron POMC melepaskan alfa MSH  yang akan bekerja pada reseptor melanokortin pada nukelus paraventrikuler. Walaupun ada setidaknya 5 subtipe reseptor melanokortin (MCR), MCR 3 dan MCR 4 merupakan tipe paling utama untuk mekanisme ini. Aktivasi reseptor-reseptor tersebut akan mengurangi asupan makanan dan pada saat yang bersamaan akan meningkatkan pengeluaran energy. Inhibisi pada kedua reseptor, akan menunjukkan efek yang berkebalikkan. Pengaruh aktivasi reseptor ini sebagian atau sepenuhnya diperantai oleh aktivasi jaras saraf yang berjalan dari nuklues paraventrikuler ke nucleus traktus solitaries dan menstimulasi sistem saraf simpatis dan pemakaian energi.

Sistem melanokortin sangat berperan dalam pengaturan penyimpanan energy. Dan defek pada penghantaran sinyal di jaras melanokortin terlihat pada obesitas yang sangat ekstrem. Mutasi MCR-4 merupakan penyebab monogenic yang umumnya dijumpai pada penderita obesitas. Dan Mutasi MCR-4 menyebabkan 5-6 % kasus obesitas parah dengan onset dini sejak masa anak-anak. Sebaliknya, aktivasi yang berlebihan berakibat pada anoreksia yang terkait dengan infeksi berat dan kanker.

  1. Neuron yang memproduksi zat oreksigenik neuropeptida Y (NPY) dan agouti-related protein (AGRP). Aktivasi neuron ini akan mengakibatkan kebalikan neuron POMC.

AGRP merupakan antagonis ilmiah terhadap MCR-3 dan MCR-4 dan kemungkinan akan meningkatkan perilaku makan dengan menghambat alfa MSH menstimulasi reseptor melanokortin. Pembentukan AGRP yang berlebihan akibat mutasi gen menimbulkan perilaku makan yang berlebihan dan obesitas.

Bila simpanan energi dalam tubuh rendah, maka neuron akan mengeluarkan NPY yang merangsang nafsu makan. Pada saat yang sama POMC dikurangi.

Pusat Saraf yang Mempengaruhi Proses Mekanik Makan

Mekanika proses makanan sepeti mengeluarkan liur, menjilat bibirnya, mengunyah makanan dan menelan, sesungguhnya siatur oleh pusat saraf di  batang otak. Pusat makanan yang lain mengatur jumlah asupan makanan dan membangkitkan pusat-pusat makan tersebut agar  kerja mekanik proses makan dapat dilakukan. Pusat saraf lain diatas hipotalamus seperti amigdala dan korteks prefontral yang berdekatan dengan hipotalamus berperan dalam pengaturan nafsu makan.  Sebagian Amigdala merupakan bagian nervus olfaktoruius, lesi destruktif menunjukkan bahwa sebagian amigdala memicu perilaku makan, sedangkan sebagian lagi menghambat. Beberapa area juga bisa membangkitkan kerja mekanik proses makan. Pengaruh penting dari destruksi amigdala adalah kebutaan psikis dalam pemilihan makanan yang menentukan jenis dan kualitas makanan yang dimakan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi asupan makanan:

  1. Jangka Pendek

Perubahan pendek diperlukan untuk menghntikan proses makan apabila seseorang telah makan dalam jumlah yang cukup. Perubahan pada penyimpanan energy dan absorbi zat gizi  membutuhkan waktu lama untuk melakukan inhibisi pada proses makan. Namun seseorang tidak boleh makan berlebihan, untuk itu harus ada mekanisme yang mengontrolnya, yaitu:

  1. Pengisian saluran cerna. Bila saluran cerna menjadi teregang, terutama lambung dan duodenum, sinyal inhibisi akan dihantarkan melalui nervus vagus untuk menekan pusat makan.
  2. Faktor hormonal.

Kolesistokinin (CCK) dilepaskan sebagai respon terhadap lemak yang masuk ke duodenum dan memiliki efek langsung ke pusat  makan untuk mengurangi  perilaku makan terutama dengan mengaktivasi jaras melanokortin.

Peptida YY (PYY) disekresikan dari seluruh saluran cerna, terutama ileum dan kolon. Asupan makanan akan merangsang pelepasan PYY, dan kadarnya dalam darah akan mencapai puncak setalah 1-2 jam setelah makan. Kadar puncak PYY dipengaruhi oleh jumlah kalori yang masuk dan komposisi makanan, dengan kadar lebih tinggi jika banyak lemak.

Peptida mirip glucagon juga disekresikan usus, yang akan meningkatkan produksi insulin. Peptide-peptida ini cenderung menekan nafsu makan.

Ghrelin, merupakan hormone yang terutama dihasilkan oleh sel oksintik lambung dan usus. Kadar hormone ini meningkat saat berpuasa, meingkat sesaat sebelum makan dan menurun setelah makan, mengisyaratkan mungkin hormone ini berperan dalam nafsu makan.

  1. Reseptor Mulut Mengukur Jumlah Asupan Makanan

Hewan dengan fistula esophagus, tetap akan mengalami pengurangan rasa lapar ketika sejumlah makanan melewati mulutnya. Hal ini memunculkan dugaan faktor mulut juga berpengaruh terhadap nafsu makan, namun inhibisi pada proses ini hanya berlangsung singkat.

  1. Jangka Panjang
    1. Kadar Glukosa, Asam Lemak, dan Asam amino. Peningkatan ketiga zat tersebut dalam darah ikut menekan nafsu makan dan apabila kekurangan salah satu dari tiga zat tersebut akan menimbulkan nafsu makan. Hal ini terkait akan teori glukostatik, lipostatik, dan aminostatik. Penelitian juga menemukan bahwa: 1) Peningkatan kadar gula darah  akan meningkatkan kecepatan bangkitan neuron glukoreseptor dipusat kenyang di nucleus ventromedial dan paraventrikular. 2) peningkatan kadar gu;a juga menurunkan bangkitan neuron glukosensitif di pusat lateral.
    2. Pengaturan Suhu

Interaksi pengatur suhu dan pengatur makanan di hipotalamus menyebabkan saat dingin orang akan cenderung lebih lapar dibandingkan ketika terpapar udara panas. Hal ini penting karena peningkatan asupan makanan pada hewan kedinginan dibutuhkan untuk meningkatkan kecepatan metabolism tubuh dan menyediakan banyak lemak, untuk mengurangi rasa dingin.

  1. Sinyal Umpan Balik dari Jaringan Adiposa

Leptin merupakan hormone peptide yang dilepaskan sel adiposity. Semakin banyak sel adiposity maka akan semakin banya dihasilkan leptin yang kemudian bersirkulasi menembus swar darah otak melalui difusi terfasilitasi  dan menempati reseptor leptin pada berbagai tempat di hypothalamus terutama neuron POMC dan neuron di paraventrikular. Efeknya adalah:

1)      Penurunan NPY ndan AGRP

2)      Aktivasi POMC dan pelepasan alfa MSH

3)      Peningkatan corticotrophin-releasing hormone

4)      Peningkatan saraf simpatis

5)      Penurunan sekresi insulin

Leptin berusaha menyampaikan ke otak bahwa energy telah tersimpan dalam jumlah yang cukup. Defek pada reseptor leptin mengakibat seseorang atau hewan hiperfagia berat dan obesitas. Namun, pada orang obesitas, tidak ditemukan defisiensi leptin, sehingga resistensi leptin menjadi faktor yang paling mungkin.

Lebaran tahun ini T.T -> :D

Read more…

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!